Senin, 04 Juli 2011
Sepuluh Kelurahan Optimis Sukseskan Kampung Pintar
Kampung Pintar - Kampung Pintar di Kota Makassar, sekarang ini, memasuki tahap penyusunan struktur kepengurusan bank sampah. Fasilitator di sepuluh kelurahan yang telah ditetapkan sebagai wilayah kampung pintar saat ini juga sedang melakukan penyusunan program terkait penguatan bank sampah yang merupakan fokus utama program ini. Agenda tersebut merupakan tindak-lanjut program setelah sepuluh fasilitator kelurahan tersebut mengikuti rapat pemantapan dan materi pengelolaan bank sampah yang semuanya digelar di kantor Yayasan Peduli Negeri (YPN), Selasa (26/06).
Sepuluh wilayah Kampung Pintar di Kota Makassar masing-masing Kelurahan Ballaparang, Tamamaung, Kalukuang, Cambaya, Karang Anyer, UIjungpandang Baru, Pa’baeng-Baeng, Bangkala, Lakkang, dan Kelurahan La’latang. Sepuluh kelurahan ini ditetapkan sebagai wilayah Kampung Pintar tahun 2011 setelah melalui proses seleksi yang sedemikian panjang, antara lain pemantauan di lapangan yang dilakukan motivator dan sejumlah perwakilan dinas yang terkait (lingkup Pemerintah Kota Makassar). Selain itu, sepuluh fasilitator tersebut telah menyerahkan proposal yang mengacu pada lima pilar program Kampung Pintar di Kota Makassar. Lima pilar yang dimaksud adalah pilar lingkungan, kesehatan, ekonomi, nutrisi dan pilar informasi dan teknologi.
Kendati demikian, berdasarkan mekanisme yang ditetapkan oleh Yayasan Unilever Indonesia melalui Nurul Ekawati bahwa konsentrasi program Kampung Pintar di Kota Makassar diawali pada penguatan pilar lingkungan. Dengan begitu, maka sepuluh wilayah Kampung Pintar yang telah ditetapkan kini berkonsentrasi pada pengelolaan bank sampah hingga penyusunan struktur kepengerusan bank sampah di wilayah mereka masing-masing. “Lima aspek yang menjadi sasaran program Kampung Pintar adalah lingkungan, kesehatan, nutrisi, ekonomi dan pilar informasi dan teknologi, namun sebagai langkah awal program ini kita berfokus pada hal-hal yang berkaitan penguatan bank sampah yang menjadi bagian dari pilar lingkungan,” kata Nurul Ekawati di kantor YPN, beberapa waktu lalu.
Sebenarnya, sepuluh wilayah Kampung Pintar di Kota Makassar telah mengusulkan beragam program yang korelasinya terkait potensi dan kondisi lingkungan mereka. Berdasarkan pantauan dan wawancara di lapangan yang dilakukan oleh motivator Kampung Pintar, fasilitator tersebut menyebutkan bermacam-macam mekanisme pengelolaan bank sampah. Hal tersebut diakibatkan oleh kondisi wilayah mereka yang juga berbeda-beda. Seperti di Kelurahan Ballaparang. Menurut fasilitatornya, Pattagiling, pihaknya sudah melakukan pengelolaan bank sampah, namun pengelolaannya belum dimanage dengan baik. “Di wilayah kami, sudah ada beberapa pemulung yang menjemput sampah di rumah-rumah warga. Mereka diberi upah dan selanjutnya sampah tersebut dipilah sendiri lalu dijual,” ujar Pattagiling.
Menurut Pattagiling, bila program penguatan bank sampah sebagaimana yang ada dalam mekanisme program Kampung sudah dijalankan, maka pihaknya akan mengkoordinir langsung para pemulung tersebut dan merekrut mereka sebagai anggota dalam kepengurusan bank sampah Kampung Pintar. “Jadi selama ini kami melarang fukuda (motor pengangkut sampah-red) masuk ke wilayah kami. Dan nanti kami tidak kesulitan karena pemulung itu dalam pengawasan kami dan mereka menjadikan sampah-sampah itu sebagai piring (mata pencaharian-red). Namun bila nanti Kampung Pintar ini berjalan, maka mereka akan kami jadikan sebagai bagian dari program ini,” papar Pattagiling, “saya bersedia menjadikan rumah saya sebagai sekretariat bank sampah untuk program Kampung Pintar.”
Berbeda dengan Kelurahan Ballaparang, sampah di RW 1 Kelurahan Ujungpandang Baru, selama ini, dijemput oleh tukang sampah dari wilayah lain. Setiap kepala keluarga membayar Rp.10.000,- setiap bulan. “Kami maunya agar ada sosialisasi kepada warga agar memilah sendiri sampah mereka artinya sampah kering dipisahkan dengan sampah basah. Sampah kering itu disimpan di bank sampah dan sampah basah dijemput pemulung. Masalahnya apakah pemulung ini tidak keberatan bila kita yang mengambil sampah kering tersebut karena selama ini sampah-sampah itulah yang dijadikan mata pencaharian,” ujar Sherli, fasilitator Kampung Pintar Kelurahan Ujungpandang Baru, “jangan sampai ada kesan kita mematikan penghidupan mereka.”
Di Kelurahan Cambaya, sampah warga setempat dijemput oleh petugas pengangkut sampah dan dibawa langsung ke Tempat Pembuangan Sementara (TPA). Warga membayar iuran sampah sebesar Rp.3000,- setiap bulan. Sebetulnya warga di kelurahan ini berorientasi pada kebersihan lingkungan saja. Namun mereka menyambut positif program Kampung Pintar dan sangat antusias mendirikan bank sampah. “Kami sangat respek dengan program Kampung Pintar ini karena ternyata bank sampah bisa memiliki nilai jual. Kami berusaha mendirikan bank sampah dan mencari tempat yang strategis untuk mendukung program ini,” kata Hasriani.
Senada dengan Hasriani, fasilitator Kelurahan Pa’baeng-baeng, Hadrah mengatakan pihaknya akan mencari tempat untuk dijadikan sekretariat sampah sampah. Namun bila tidak ada tempat yang lain, maka dia bersedia menjadikan rumahnya sebagai sekretariat bank sampah untuk program Kampung Pintar. “Di wilayah kami sampah langsung dijemput petugas dari dinas kebersihan dan tidak dipungut biaya,” terang Hadrah lalu menambahkan bahwa di wilayahnya, kader lingkungan sudah membuat tas dan sandal dari sampah.
Sementara itu, di kelurahan Lakkang, warga mengubur dan membakar sampah. Kelurahan ini terletak di wilayah kepulauan sehingga tidak ada petugas dari dinas kebersihan menjemput sampah. Namun warga sudah pandai mengumpulkan sampah yang bisa didaur ulang. “Kami sangat merespon penguatan bank sampah namun tidak ada pemulung dan pengepul yang siap membeli sampah. Kami kesulitan memang dalam hal penjemputan sampah, karena itu kami membutuhkan pelatihan terkait pengelolaan bank sampah dan pembentukan koperasi bank sampah,” kata Kalsum, fasilitator Kampung Pintar Kelurahan Lakkang.
Di Kelurahan La’latang, pengelolaan bank sampah sudah berjalan dengan baik. Pemilihan sampah kering dan sampah basah di wilayah ini praktis sudah dilakukan warga. Hanya saja mereka terkendala pada tempat yang akan dijadikan sebagai sekretariat bank sampah. “Kami akan berusaha mencari tempat dan akan insyaAllah kami akan menjalankan program ini dengan baik,” ujar Wahab, fasilitator Kampung Pintar, Kelurahan Lakkang.
Sekedar diketahui, Kelurahan La’latang merupakan juara satu Makassar Green and Clean tahun 2010. Berdasarkan pantuan fasilitator, wilayah ini tampak asri, hijau dan indah bila dibanding wilayah-wilayah lainnya. Kelurahan La’latang memang dihuni oleh warga yang umumnya sadar lingkungan sehingga wilayah ini tampak bersih sekali.
Di Kelurahan Tamamaung, daur ulang sampah di wilayah ini sudah berjalan baik. Bahkan di sini, sudah ada Usaha Kecil Menengah (UKM) yang khusus mengelola sampah menjadi kerajinan-kerajinan tangan seperti bossara, tas, hiasan dinding dan semacamnya. Menurut Asikin, fasilitator Kampung Pintar di wilayah ini, pihaknya akan melakukan pemilahan sampah kering dan sampah basah. “Kami akan membentuk struktur kepengurusan bank sampah dan membeli karung khusus untuk menampung sampah-sampah warga,” ujar Asikin.
Sebagaimana diketahui, bahwa sebagian wilayah di Kota Makassar menjadi pusat daur ulang sampah. Sampah-sampah diolah dan mereka jual kembali sehingga bisa menghasilkan uang. Hal menjadi bukti kreatifitas warga Makassar yang menggema sejak program Green and Clean berjalan di Kota Makassar. Seperti di Kelurahan Karang Anyer. Melalui fasilitatornya Ahmad Sese yang sekaligus menjadi icon daur ulang sampah di Kota Makassar terus bergiat di bidang daur ulang sampah. Ia juga menyambut positif program Kampung Pintar dan akan membuat sekretariat bank sampah.
Di Kelurahan Bangkala, daur ulang sudah berjalan baik. Sejauh ini, warga sudah lihai memilah sampah kering dan sampah basah. Namun yang mereka pilah adalah sampah yang akan didaur ulang. Sementara sampah lainnya dibuang untuk diangkut ke TPS. Meski demikian, warga di wilayah ini merespon program Kampung Pintar dengan dan akan menjalankan penguatan sampah sesuai petunjuk kegiatan yang ditetapkan oleh YPN dan YUI.
Di Kelurahan Kalukuang, berdasarkan pantauan motivator Kampung Pintar, wilayah ini tampak asri dan teduh. Program Green and Clean yang dilaksanakan sejak tahun 2008 berhasil merubah wajah wilayah ini menjadi lebih hijau dibanding sebelumnya. Sekarang ini, sampah-sampah dari rumah warga langsung dibuang di konteiner dan selanjutnya petugas dari dinas kebersihan mengambil sampah tersebut dan dibawa ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Kalukuang siap mensukseskan program Kampung Pintar 2011 di Makassar. (Ebi/KP)
Sepuluh wilayah Kampung Pintar di Kota Makassar masing-masing Kelurahan Ballaparang, Tamamaung, Kalukuang, Cambaya, Karang Anyer, UIjungpandang Baru, Pa’baeng-Baeng, Bangkala, Lakkang, dan Kelurahan La’latang. Sepuluh kelurahan ini ditetapkan sebagai wilayah Kampung Pintar tahun 2011 setelah melalui proses seleksi yang sedemikian panjang, antara lain pemantauan di lapangan yang dilakukan motivator dan sejumlah perwakilan dinas yang terkait (lingkup Pemerintah Kota Makassar). Selain itu, sepuluh fasilitator tersebut telah menyerahkan proposal yang mengacu pada lima pilar program Kampung Pintar di Kota Makassar. Lima pilar yang dimaksud adalah pilar lingkungan, kesehatan, ekonomi, nutrisi dan pilar informasi dan teknologi.
Kendati demikian, berdasarkan mekanisme yang ditetapkan oleh Yayasan Unilever Indonesia melalui Nurul Ekawati bahwa konsentrasi program Kampung Pintar di Kota Makassar diawali pada penguatan pilar lingkungan. Dengan begitu, maka sepuluh wilayah Kampung Pintar yang telah ditetapkan kini berkonsentrasi pada pengelolaan bank sampah hingga penyusunan struktur kepengerusan bank sampah di wilayah mereka masing-masing. “Lima aspek yang menjadi sasaran program Kampung Pintar adalah lingkungan, kesehatan, nutrisi, ekonomi dan pilar informasi dan teknologi, namun sebagai langkah awal program ini kita berfokus pada hal-hal yang berkaitan penguatan bank sampah yang menjadi bagian dari pilar lingkungan,” kata Nurul Ekawati di kantor YPN, beberapa waktu lalu.
Sebenarnya, sepuluh wilayah Kampung Pintar di Kota Makassar telah mengusulkan beragam program yang korelasinya terkait potensi dan kondisi lingkungan mereka. Berdasarkan pantauan dan wawancara di lapangan yang dilakukan oleh motivator Kampung Pintar, fasilitator tersebut menyebutkan bermacam-macam mekanisme pengelolaan bank sampah. Hal tersebut diakibatkan oleh kondisi wilayah mereka yang juga berbeda-beda. Seperti di Kelurahan Ballaparang. Menurut fasilitatornya, Pattagiling, pihaknya sudah melakukan pengelolaan bank sampah, namun pengelolaannya belum dimanage dengan baik. “Di wilayah kami, sudah ada beberapa pemulung yang menjemput sampah di rumah-rumah warga. Mereka diberi upah dan selanjutnya sampah tersebut dipilah sendiri lalu dijual,” ujar Pattagiling.
Menurut Pattagiling, bila program penguatan bank sampah sebagaimana yang ada dalam mekanisme program Kampung sudah dijalankan, maka pihaknya akan mengkoordinir langsung para pemulung tersebut dan merekrut mereka sebagai anggota dalam kepengurusan bank sampah Kampung Pintar. “Jadi selama ini kami melarang fukuda (motor pengangkut sampah-red) masuk ke wilayah kami. Dan nanti kami tidak kesulitan karena pemulung itu dalam pengawasan kami dan mereka menjadikan sampah-sampah itu sebagai piring (mata pencaharian-red). Namun bila nanti Kampung Pintar ini berjalan, maka mereka akan kami jadikan sebagai bagian dari program ini,” papar Pattagiling, “saya bersedia menjadikan rumah saya sebagai sekretariat bank sampah untuk program Kampung Pintar.”
Berbeda dengan Kelurahan Ballaparang, sampah di RW 1 Kelurahan Ujungpandang Baru, selama ini, dijemput oleh tukang sampah dari wilayah lain. Setiap kepala keluarga membayar Rp.10.000,- setiap bulan. “Kami maunya agar ada sosialisasi kepada warga agar memilah sendiri sampah mereka artinya sampah kering dipisahkan dengan sampah basah. Sampah kering itu disimpan di bank sampah dan sampah basah dijemput pemulung. Masalahnya apakah pemulung ini tidak keberatan bila kita yang mengambil sampah kering tersebut karena selama ini sampah-sampah itulah yang dijadikan mata pencaharian,” ujar Sherli, fasilitator Kampung Pintar Kelurahan Ujungpandang Baru, “jangan sampai ada kesan kita mematikan penghidupan mereka.”
Di Kelurahan Cambaya, sampah warga setempat dijemput oleh petugas pengangkut sampah dan dibawa langsung ke Tempat Pembuangan Sementara (TPA). Warga membayar iuran sampah sebesar Rp.3000,- setiap bulan. Sebetulnya warga di kelurahan ini berorientasi pada kebersihan lingkungan saja. Namun mereka menyambut positif program Kampung Pintar dan sangat antusias mendirikan bank sampah. “Kami sangat respek dengan program Kampung Pintar ini karena ternyata bank sampah bisa memiliki nilai jual. Kami berusaha mendirikan bank sampah dan mencari tempat yang strategis untuk mendukung program ini,” kata Hasriani.
Senada dengan Hasriani, fasilitator Kelurahan Pa’baeng-baeng, Hadrah mengatakan pihaknya akan mencari tempat untuk dijadikan sekretariat sampah sampah. Namun bila tidak ada tempat yang lain, maka dia bersedia menjadikan rumahnya sebagai sekretariat bank sampah untuk program Kampung Pintar. “Di wilayah kami sampah langsung dijemput petugas dari dinas kebersihan dan tidak dipungut biaya,” terang Hadrah lalu menambahkan bahwa di wilayahnya, kader lingkungan sudah membuat tas dan sandal dari sampah.
Sementara itu, di kelurahan Lakkang, warga mengubur dan membakar sampah. Kelurahan ini terletak di wilayah kepulauan sehingga tidak ada petugas dari dinas kebersihan menjemput sampah. Namun warga sudah pandai mengumpulkan sampah yang bisa didaur ulang. “Kami sangat merespon penguatan bank sampah namun tidak ada pemulung dan pengepul yang siap membeli sampah. Kami kesulitan memang dalam hal penjemputan sampah, karena itu kami membutuhkan pelatihan terkait pengelolaan bank sampah dan pembentukan koperasi bank sampah,” kata Kalsum, fasilitator Kampung Pintar Kelurahan Lakkang.
Di Kelurahan La’latang, pengelolaan bank sampah sudah berjalan dengan baik. Pemilihan sampah kering dan sampah basah di wilayah ini praktis sudah dilakukan warga. Hanya saja mereka terkendala pada tempat yang akan dijadikan sebagai sekretariat bank sampah. “Kami akan berusaha mencari tempat dan akan insyaAllah kami akan menjalankan program ini dengan baik,” ujar Wahab, fasilitator Kampung Pintar, Kelurahan Lakkang.
Sekedar diketahui, Kelurahan La’latang merupakan juara satu Makassar Green and Clean tahun 2010. Berdasarkan pantuan fasilitator, wilayah ini tampak asri, hijau dan indah bila dibanding wilayah-wilayah lainnya. Kelurahan La’latang memang dihuni oleh warga yang umumnya sadar lingkungan sehingga wilayah ini tampak bersih sekali.
Di Kelurahan Tamamaung, daur ulang sampah di wilayah ini sudah berjalan baik. Bahkan di sini, sudah ada Usaha Kecil Menengah (UKM) yang khusus mengelola sampah menjadi kerajinan-kerajinan tangan seperti bossara, tas, hiasan dinding dan semacamnya. Menurut Asikin, fasilitator Kampung Pintar di wilayah ini, pihaknya akan melakukan pemilahan sampah kering dan sampah basah. “Kami akan membentuk struktur kepengurusan bank sampah dan membeli karung khusus untuk menampung sampah-sampah warga,” ujar Asikin.
Sebagaimana diketahui, bahwa sebagian wilayah di Kota Makassar menjadi pusat daur ulang sampah. Sampah-sampah diolah dan mereka jual kembali sehingga bisa menghasilkan uang. Hal menjadi bukti kreatifitas warga Makassar yang menggema sejak program Green and Clean berjalan di Kota Makassar. Seperti di Kelurahan Karang Anyer. Melalui fasilitatornya Ahmad Sese yang sekaligus menjadi icon daur ulang sampah di Kota Makassar terus bergiat di bidang daur ulang sampah. Ia juga menyambut positif program Kampung Pintar dan akan membuat sekretariat bank sampah.
Di Kelurahan Bangkala, daur ulang sudah berjalan baik. Sejauh ini, warga sudah lihai memilah sampah kering dan sampah basah. Namun yang mereka pilah adalah sampah yang akan didaur ulang. Sementara sampah lainnya dibuang untuk diangkut ke TPS. Meski demikian, warga di wilayah ini merespon program Kampung Pintar dengan dan akan menjalankan penguatan sampah sesuai petunjuk kegiatan yang ditetapkan oleh YPN dan YUI.
Di Kelurahan Kalukuang, berdasarkan pantauan motivator Kampung Pintar, wilayah ini tampak asri dan teduh. Program Green and Clean yang dilaksanakan sejak tahun 2008 berhasil merubah wajah wilayah ini menjadi lebih hijau dibanding sebelumnya. Sekarang ini, sampah-sampah dari rumah warga langsung dibuang di konteiner dan selanjutnya petugas dari dinas kebersihan mengambil sampah tersebut dan dibawa ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Kalukuang siap mensukseskan program Kampung Pintar 2011 di Makassar. (Ebi/KP)
Development Fasilitator
Kampung Pintar - Program Kampung Pintar 2011 di Kota Makassar kini memasuki tahap development fasilitator. Rencananya, Jumat (08/07) mendatang, sepuluh fasilitator Kampung Pintar akan menghadiri pertemuan di Aula Kantor Balaikota Makassar untuk menerima materi tentang penguatan bank sampah yang merupakan fokus awal pelaksanaan program Kampung Pintar di Makassar. Selain fasilitator acara ini juga akan dihadiri pengurus RW dan Lurah masing-masing wilayah Kampung Pintar.
Materi akan dibawakan oleh perwakilan Yayayasan Unilever Indonesia, Nurul Ekawati. Sesuai rencana, fasilitator juga akan mendapatkan pembekalan dari pengusaha sampah yang sukses mengelola sampah di Kota Makassar.
Program Kampung Pintar merupakan pilot project di Kota Makassar. Aspek lingkungan yang menjadi konsentrasi utama tahun ini. Aspek lingkungan tersebut berfokus pada pemilahan, pengelolaan, dan pemanfaatan sampah. Yayasan Peduli Negeri (YPN) sebagai pelaksana program ini, akan mendampingi sepuluh wilayah yang telah dtetapkan hingga bulan november mendatang. Program ini merupakan program yang ditelorkan oleh Yayasan Unilever Indonesia sebagai tindak lanjut program Green and Clean yang sukses di Kota Makassar sejak tahun 2008.
Pada development fasilitator tersebut, dana stimulan untuk mendukung pelaksanaan program Kampung Pintar akan dibagikan kepada fasilitator. Pembagian stimulan itu diberikan kepada wilayah yang telah menyerahkan struktur kepengurusan bank sampah dan progress-nya secara lengkap kepada YPN. (KP)
Materi akan dibawakan oleh perwakilan Yayayasan Unilever Indonesia, Nurul Ekawati. Sesuai rencana, fasilitator juga akan mendapatkan pembekalan dari pengusaha sampah yang sukses mengelola sampah di Kota Makassar.
Program Kampung Pintar merupakan pilot project di Kota Makassar. Aspek lingkungan yang menjadi konsentrasi utama tahun ini. Aspek lingkungan tersebut berfokus pada pemilahan, pengelolaan, dan pemanfaatan sampah. Yayasan Peduli Negeri (YPN) sebagai pelaksana program ini, akan mendampingi sepuluh wilayah yang telah dtetapkan hingga bulan november mendatang. Program ini merupakan program yang ditelorkan oleh Yayasan Unilever Indonesia sebagai tindak lanjut program Green and Clean yang sukses di Kota Makassar sejak tahun 2008.
Pada development fasilitator tersebut, dana stimulan untuk mendukung pelaksanaan program Kampung Pintar akan dibagikan kepada fasilitator. Pembagian stimulan itu diberikan kepada wilayah yang telah menyerahkan struktur kepengurusan bank sampah dan progress-nya secara lengkap kepada YPN. (KP)
Penanaman 30.000 Pohon di Makassar
Kampung Pintar - Sejumlah kegiatan mewarnai peringatan hari lingkungan hidup sedunia di Kota Makassar, Senin (13/6). Serangkaian aktivitas tersebut antara lain pembagian pohon, seminar dan penanaman pohon di 500 sekolah.
Kegiatan dimulai di kantor gabungan dinas-dinas jalan Urip Sumohardjo, Makassar. Pembagian pohon ini dihadiri oleh Walikota Makassar, Ilham Arief Sirajudin, Branch Manager Bank Panin, Andi Onny Tenri Gappa, Putri Indonesia Reisa Kartikasari dan Direktur Yayasan Peduli Negeri, Saharuddin Ridwan.
Acara dilanjutkan dengan penanaman pohon di SMP 30 Makassar. Sekolah ini merupakan pemenang Makassar Green School yang merupakan program tahunan Yayasan Peduli Negeri bekerjasama pemkot Makassar dan Yayasan Unilever Indonesia. Penanaman pohon di sekolah ini menandai penanaman pohon di 500 sekolah di Kota Makassar. Sedikitinya 30.000 pohon disebar yang disponsori oleh Bank Panin dan Suzuki peduli.
Branch Manager Bank Panin, Andi Onny Tenri Gappa mengatakan, untuk mencegah global warming dibutuhkan peran aktif masyarakat dan pemerintah. “Masyarakat dan pemerintah harus sama-sama berperan aktif dalam mencegah global warming yang salah satunya dengan cara menanam pohon sebanyak-banyaknya,” kata Andi Onny.
Sementara itu, Wali Kota Makassar, Ilham Arief Sirajuddin mengatakan bahwa masalah bumi adalah tanggung jawab bersama. Karena itu Makassar harus memainkan peranan penting dalam meredam dampak kerusakan lingkungan demi kelangsungan hidup umat manusia dan semua ekosistem di bumi. “Suhu bumi terus meningkat setiap tahun. Bila peningkatan suhu bumi terus terjadi, iklim di seluruh belahan bumi akan terganggu dan mengakibatkan dampak yang luar biasa,” ujar Ilham.
Kegiatan ini merupakan hasil kerjasama pemerintah kota Makassar, Balai Lingkungan Hidup, Yayasan Peduli Negeri, Panin Peduli, Sinar Galesong Pratama (Suzuki peduli), dan masyarakat Kota Makassar. (Firman/KP)
Tentang Program Kampung Pintar
Kampung Pintar merupakan kampung mandiri yang memiliki karakter dan potensi kearifan lokal, yang bisa dikembangkan untuk mencipta ataupun meningkatkan produktifitas melalui pemberdayaan masyarakat sekitar secara berkelanjutan. Program yang dijalankan di wilayah tersebut juga menyentuh lima unsur idealnya, yaitu : lingkungan, kesehatan, ekonomi, teknologi, nutrisi.
A. LINGKUNGAN
a. Program Green and Clean yang telah bergulir di Makassar selama 3 tahun, memberi dampak positif dalam pembentukan wilayah-wilayah dengan program lingkungan yang bagus. Seperti diantaranya, program penghijauan dan upaya-upaya masyarakat dalam mengurangi timbulan sampah.
a. Untuk menuju kampung pintar, ada beberapa standart awal dari segi lingkungan, yaitu 1. Upaya pemerataan penghijauan, yaitu diukur melalui keberadaan tanaman/penghijauan yang mencakup 40% dari luas suatu wilayah.
b. Tiap wilayah memiliki 2 bank sampah yang sudah dijalankan.
c. Sudah menjalankan program reduksi sampah dan mampu menunjukkan hasil reduksi sampah, minimal 5% dari timbulan awal.
d. Menjalankan sistem kader lingkungan dengan model 1 : 10. Artinya, satu orang kader membina 10 warga sekitar.
B. KESEHATAN
Kesehatan merupakan salah satu faktor penting dalam peningkatan kualitas hidup manusia.
Beberapa target akhir yang ingin dicapai dalam bidang kesehatan antara lain :
a. Terbentuknya Posyandu dengan sistem yang memadai
Menurut Keputusan Menteri Kesehatan RI no 828/MENKES/SK/IX/2008 Tentang Petunjuk Teknis Standart Pelayanan Minimal Bisang Kesehatan di Kabupaten/Kota. Bahwa Posyandu merupakan entry point/pintu masuk semua pelayanan kesehatan dasar, khususnya untuk bayi, balita dan ibu hamil. Diharapkan, Posyandu dapat meningkatkan derajat kesehatan, menurunkan angka kematian ibu dan bayi serta menanggulangi balita dengan gizi buruk.
b. Pendekatan yang digunakan:
1. Membuat sistem pendataan untuk ibu hamil
2. Memenuhi standart pelayanan untuk ibu hamil secara rutin
3. Edukasi dan pelayanan kesehatan yang memadai dalam pemenuhan kebutuhan bayi
Pelayanan kesehatan untuk memenuhi pemberian imunisasi dasar bagi bayi (BCG, DPT/HB1-3, Polio 1-4, campak).
• Edukasi dan penyuluhan dalam perawatan kesehatan bayi
• Penyuluhan perawatan kesehatan bayi, meliputi konseling ASI eksklusif, pemberian makanan pendamping ASI sejak usia 6 bulan
• Edukasi kesehatan umum, gigi dan mulut untuk menunjang kesadaran perilaku hidup bersih dan sehat sejak dini.
2. Pengurangan jumlah penderita DB (demam berdarah)
Menurut dinas kesehatan kota makassar penderita demam berdarah tahun 2010 sebanyak…..target untuk kampung pintar adalah berkurang 10 persen dr jumlah prosentase awal.
3. PHBS Meningkatkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) di tiap wilayah untuk menunjang kesadaran dan peningkatan kualitas kesehatan.
- Mendorong penerapan edukasi berwawasan kesehatan sejak dini, melalui sosialisasi PHBS.
- Edukasi kesehatan umum, gigi dan mulut untuk menunjang kesadaran perilaku hidup bersih dan sehat sejak dini.
- Kampanye PHBS di beberapa kawasan layanan publik yang strategis (tempat pelayanan kesehatan, sekolah, tempat umum, dll)
C. TEKNOLOGI
1. Mampu memasarkan profil dan potensi wilayah secara luas serta efektif melalui dunia maya.
2. Mempunyai internet center sebagai wadah komunikasi untuk menyebarluaskan informasi dan pengembangan jaringan komunitas tersebut.
D. EKONOMI
1. Program diarahkan agar dapat memberikan manfaat ekonomis bagi masyarakat sekitar
2. Target akhir yang akan dicapai di bidang ekonomi, diantaranya :
a. Mencipta dan mengembangkan produk unggulan yang layak jual demi peningkatan ekonomi masyarakat sekitar.
b. Mempunyai community center, sebagai wadah dan forum penyampaian gagasan maupun inovasi-inovasi untuk program pengembangan wilayah.
c. Community center sekaligus merupakan tempat dari produktifitas yang dihasilkan.
E. NUTRISI
Unsur ini terkait dengan pola konsumsi warga, seperti kebiasaan sarapan dan konsumsi bahan-bahan makanan bergizi lainnya.
TARGET AKHIR
a. Ada peningkatan pemerataan penghijauan dari standart awal. Cakupannya meningkat menjadi 60% dari luas wilayah.
b. Efektifitas bank sampah sebagai program reduksi sampah yang dijalankan warga di wilayah tersebut. Yaitu dengan perbandingan 1 : 50. Artinya, setiap bank sampah mampu menampung dan menjalankan sistem pemilahan sampah dari 50 KK.
c. Terbentuknya koperasi bank sampah yang sistematis. Artinya, program koperasi ini dijalankan secara konsisten oleh anggotanya dan mampu menghasilkan keuntungan minimal Rp 1 juta tiap bulan.
d. Mampu mereduksi sampah sejumlah 20% dari timbulan awal.
A. LINGKUNGAN
a. Program Green and Clean yang telah bergulir di Makassar selama 3 tahun, memberi dampak positif dalam pembentukan wilayah-wilayah dengan program lingkungan yang bagus. Seperti diantaranya, program penghijauan dan upaya-upaya masyarakat dalam mengurangi timbulan sampah.
a. Untuk menuju kampung pintar, ada beberapa standart awal dari segi lingkungan, yaitu 1. Upaya pemerataan penghijauan, yaitu diukur melalui keberadaan tanaman/penghijauan yang mencakup 40% dari luas suatu wilayah.
b. Tiap wilayah memiliki 2 bank sampah yang sudah dijalankan.
c. Sudah menjalankan program reduksi sampah dan mampu menunjukkan hasil reduksi sampah, minimal 5% dari timbulan awal.
d. Menjalankan sistem kader lingkungan dengan model 1 : 10. Artinya, satu orang kader membina 10 warga sekitar.
B. KESEHATAN
Kesehatan merupakan salah satu faktor penting dalam peningkatan kualitas hidup manusia.
Beberapa target akhir yang ingin dicapai dalam bidang kesehatan antara lain :
a. Terbentuknya Posyandu dengan sistem yang memadai
Menurut Keputusan Menteri Kesehatan RI no 828/MENKES/SK/IX/2008 Tentang Petunjuk Teknis Standart Pelayanan Minimal Bisang Kesehatan di Kabupaten/Kota. Bahwa Posyandu merupakan entry point/pintu masuk semua pelayanan kesehatan dasar, khususnya untuk bayi, balita dan ibu hamil. Diharapkan, Posyandu dapat meningkatkan derajat kesehatan, menurunkan angka kematian ibu dan bayi serta menanggulangi balita dengan gizi buruk.
b. Pendekatan yang digunakan:
1. Membuat sistem pendataan untuk ibu hamil
2. Memenuhi standart pelayanan untuk ibu hamil secara rutin
3. Edukasi dan pelayanan kesehatan yang memadai dalam pemenuhan kebutuhan bayi
Pelayanan kesehatan untuk memenuhi pemberian imunisasi dasar bagi bayi (BCG, DPT/HB1-3, Polio 1-4, campak).
• Edukasi dan penyuluhan dalam perawatan kesehatan bayi
• Penyuluhan perawatan kesehatan bayi, meliputi konseling ASI eksklusif, pemberian makanan pendamping ASI sejak usia 6 bulan
• Edukasi kesehatan umum, gigi dan mulut untuk menunjang kesadaran perilaku hidup bersih dan sehat sejak dini.
2. Pengurangan jumlah penderita DB (demam berdarah)
Menurut dinas kesehatan kota makassar penderita demam berdarah tahun 2010 sebanyak…..target untuk kampung pintar adalah berkurang 10 persen dr jumlah prosentase awal.
3. PHBS Meningkatkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) di tiap wilayah untuk menunjang kesadaran dan peningkatan kualitas kesehatan.
- Mendorong penerapan edukasi berwawasan kesehatan sejak dini, melalui sosialisasi PHBS.
- Edukasi kesehatan umum, gigi dan mulut untuk menunjang kesadaran perilaku hidup bersih dan sehat sejak dini.
- Kampanye PHBS di beberapa kawasan layanan publik yang strategis (tempat pelayanan kesehatan, sekolah, tempat umum, dll)
C. TEKNOLOGI
1. Mampu memasarkan profil dan potensi wilayah secara luas serta efektif melalui dunia maya.
2. Mempunyai internet center sebagai wadah komunikasi untuk menyebarluaskan informasi dan pengembangan jaringan komunitas tersebut.
D. EKONOMI
1. Program diarahkan agar dapat memberikan manfaat ekonomis bagi masyarakat sekitar
2. Target akhir yang akan dicapai di bidang ekonomi, diantaranya :
a. Mencipta dan mengembangkan produk unggulan yang layak jual demi peningkatan ekonomi masyarakat sekitar.
b. Mempunyai community center, sebagai wadah dan forum penyampaian gagasan maupun inovasi-inovasi untuk program pengembangan wilayah.
c. Community center sekaligus merupakan tempat dari produktifitas yang dihasilkan.
E. NUTRISI
Unsur ini terkait dengan pola konsumsi warga, seperti kebiasaan sarapan dan konsumsi bahan-bahan makanan bergizi lainnya.
TARGET AKHIR
a. Ada peningkatan pemerataan penghijauan dari standart awal. Cakupannya meningkat menjadi 60% dari luas wilayah.
b. Efektifitas bank sampah sebagai program reduksi sampah yang dijalankan warga di wilayah tersebut. Yaitu dengan perbandingan 1 : 50. Artinya, setiap bank sampah mampu menampung dan menjalankan sistem pemilahan sampah dari 50 KK.
c. Terbentuknya koperasi bank sampah yang sistematis. Artinya, program koperasi ini dijalankan secara konsisten oleh anggotanya dan mampu menghasilkan keuntungan minimal Rp 1 juta tiap bulan.
d. Mampu mereduksi sampah sejumlah 20% dari timbulan awal.
YPN Bekali Fasilitator Kampung Pintar : "Memilah, Mengelola dan Memanfaatkan Sampah Kering"
Kampung Pintar - Sebanyak sepuluh fasilitator program Kampung Pintar 2011 mengikuti acara pembekalan di Kantor Yayasan Peduli Negeri (YPN), Selasa siang (28/06). YPN memberikan materi tentang bagaimana memilah, mengolah dan memanfaatkan sampah. Pembekalan ini dilakukan agar semua fasilitator benar-benar mengetahui mekanisme pengolahan sampah mengingat program yang merupakan pilot project di Kota Makassar ini, fokus utamanya adalah lingkungan yang terkait dengan pengelolaan bank sampah.
“Konsentrasi kita adalah pengelolaan bank sampah dan tentunya yang dilakukan adalah memilah, mengelola dan memanfaatkan sampah kering yang ada dalam bank sampah,” kata Jaya, motivator YPN, saat memberikan materi kepada sepuluh fasilitator Kampung Pintar.
Menurut Jaya, sebagai langkah awal saat dana stimulan tahap pertama cair adalah pengadaan sekretariat bank sampah di masing-masing wilayah. Di sinilah semua kegiatan administrasi seperti pembukuan sampah dilakukan. “Sebetulnya program Kampung Pintar ini memiliki beberapa aspek antara lain ekonomi dan nutrisi namun fokus awal kita adalah lingkungan yang tentu saja tidak terlepas dari pengelolaan sampah,” ujar Jaya.
Pembekalan ini berlangsung alot saat beberapa fasilitator menanyakan mekanisme pembelian sampah yang notabene sudah “dikapling” oleh pemulung. “Saya kira yang menjadi pekerjaan berat kita adalah bagaimana bentuk koordinasi kader kepada pemulung yang sudah bertahun-tahun memungut sampah dan menjadikan itu sebagai mata pencaharian,” terang Sherly, fasilitator Kampung Pintar Kelurahan Ujung Pandang Baru, “ini sensitif karena pemulung itu terorganisir sehingga jangan sampai ada kesan kita mengambil lahan mereka.”
Sementara itu, fasilitator Kampung Pintar Kelurahan Ballaparang, Pattagiling mengatakan, pihaknya sudah lama mengkoordinir pemulung sampah. “Kami mengkoordinir beberapa pemulung untuk mengambil sampah-sampah di RW 4 Ballaparang, itu sudah berlangsung lama. Kami melarang fukuda (motor pengangkut sampah-red) masuk dan kami memberikan ruang kepada pemulung untuk mencari nafkah di sana. Koordinasi kami agak gampang bila program ini berjalan, tapi barangkali bagi wilayah lain yang baru mau membentuk kelompok pemulung itu sulit karena boleh jadi berbenturan dengan pemulung yang sudah ada,” papar Pattagiling.
Menanggapi pernyataan fasilitator tersebut, Jaya mengatakan, dibutuhkan koordinasi yang sehat antara kelompok pengelola sampah Kampung Pintar dengan organisasi pemulung yang sudah ada. “Bila ada jalan mereka (pemulung itu-red) direkrut, saya kira itu jauh lebih bagus. Tentu saja semuanya dilakukan dengan manajemen yang baik dan terstruktur,” kata Jaya.
Pembekalan fasilitator Kampung Pintar di Kantor YPN ini berlangsung sekitar empat jam. Sepuluh fasilitaror tampak antusias mengikuti materi. Pemberian pembekalan ini dilakukan sebelum dana stimulan program Kampung Pintar dibagikan. Rencananya, dalam waktu dekat ini, dana stimulan sebesar Rp. 10.000.000,- setiap wilayah akan dibagikan di ruang pola Kantor Walikota Makassar. Pembagiannya akan dilakukan tiga tahap. Tahap pertama, setiap wilayah akan mendapat Rp. 3.000.000,- selanjutnya akan diberikan lagi tiga bulan mendatang. Namun tidak menutup kemungkinan dana tersebut dialihkan ke wilayah lain bila wilayah sebelumnya dinilai tidak mampu merealisasikan program yang sudah ditetapkan. (KP)
“Konsentrasi kita adalah pengelolaan bank sampah dan tentunya yang dilakukan adalah memilah, mengelola dan memanfaatkan sampah kering yang ada dalam bank sampah,” kata Jaya, motivator YPN, saat memberikan materi kepada sepuluh fasilitator Kampung Pintar.
Menurut Jaya, sebagai langkah awal saat dana stimulan tahap pertama cair adalah pengadaan sekretariat bank sampah di masing-masing wilayah. Di sinilah semua kegiatan administrasi seperti pembukuan sampah dilakukan. “Sebetulnya program Kampung Pintar ini memiliki beberapa aspek antara lain ekonomi dan nutrisi namun fokus awal kita adalah lingkungan yang tentu saja tidak terlepas dari pengelolaan sampah,” ujar Jaya.
Pembekalan ini berlangsung alot saat beberapa fasilitator menanyakan mekanisme pembelian sampah yang notabene sudah “dikapling” oleh pemulung. “Saya kira yang menjadi pekerjaan berat kita adalah bagaimana bentuk koordinasi kader kepada pemulung yang sudah bertahun-tahun memungut sampah dan menjadikan itu sebagai mata pencaharian,” terang Sherly, fasilitator Kampung Pintar Kelurahan Ujung Pandang Baru, “ini sensitif karena pemulung itu terorganisir sehingga jangan sampai ada kesan kita mengambil lahan mereka.”
Sementara itu, fasilitator Kampung Pintar Kelurahan Ballaparang, Pattagiling mengatakan, pihaknya sudah lama mengkoordinir pemulung sampah. “Kami mengkoordinir beberapa pemulung untuk mengambil sampah-sampah di RW 4 Ballaparang, itu sudah berlangsung lama. Kami melarang fukuda (motor pengangkut sampah-red) masuk dan kami memberikan ruang kepada pemulung untuk mencari nafkah di sana. Koordinasi kami agak gampang bila program ini berjalan, tapi barangkali bagi wilayah lain yang baru mau membentuk kelompok pemulung itu sulit karena boleh jadi berbenturan dengan pemulung yang sudah ada,” papar Pattagiling.
Menanggapi pernyataan fasilitator tersebut, Jaya mengatakan, dibutuhkan koordinasi yang sehat antara kelompok pengelola sampah Kampung Pintar dengan organisasi pemulung yang sudah ada. “Bila ada jalan mereka (pemulung itu-red) direkrut, saya kira itu jauh lebih bagus. Tentu saja semuanya dilakukan dengan manajemen yang baik dan terstruktur,” kata Jaya.
Pembekalan fasilitator Kampung Pintar di Kantor YPN ini berlangsung sekitar empat jam. Sepuluh fasilitaror tampak antusias mengikuti materi. Pemberian pembekalan ini dilakukan sebelum dana stimulan program Kampung Pintar dibagikan. Rencananya, dalam waktu dekat ini, dana stimulan sebesar Rp. 10.000.000,- setiap wilayah akan dibagikan di ruang pola Kantor Walikota Makassar. Pembagiannya akan dilakukan tiga tahap. Tahap pertama, setiap wilayah akan mendapat Rp. 3.000.000,- selanjutnya akan diberikan lagi tiga bulan mendatang. Namun tidak menutup kemungkinan dana tersebut dialihkan ke wilayah lain bila wilayah sebelumnya dinilai tidak mampu merealisasikan program yang sudah ditetapkan. (KP)
Fasilitator Kampung Pintar Bertemu di YPN
Kampung Pintar - Sebanyak sepuluh perwakilan kelurahan menghadiri rapat program Kampung Pintar di kantor Yayasan Peduli Negeri (YPN), jalan Kakatua 2, Makassar, Sabtu (9/6). Sepuluh perwakilan tersebut merupakan fasilitator kelurahan yang dipilih menjadi wilayah Kampung Pintar 2011. Wilayah mereka ditetapkan sebagai Kampung Pintar setelah melalui proses seleksi dan presentasi wilayah di ruang pola kantor walikota Makassar, beberapa waktu lalu. Rapat juga dihadiri koordinator program Kampung Pintar Makassar.
Direktur Yayasan Peduli Negeri Saharuddin Ridwan mengatakan, program Kampung Pintar yang merupakan pilot project di Kota Makassar menekankan lingkungan sebagai pilar utama. “Yang paling utama dalam program ini adalah penguatan bank sampah, pengelolaan sampah hingga pembentukan koperasi sampah,” kata Saharuddin Ridwan saat memberikan materi kepada sepuluh fasilitator Kampung Pintar.
Saharuddin Ridwan menambahkan, penguatan pilar lingkungan pada Program Kampung Pintar juga akan dilakukan dengan pembentukan kelompok kerja, baseline study, rencana kerja, monitor dan evaluasi, pembuatan media publikasi melalui media komukasi yang dilanjutkan dengan mekanisme pengelolaan bank sampah. “Dalam waktu dekat, kami akan memberikan dana stimulan kepada sepuluh wilayah Kampung Pintar secara bertahap, namun tidak tidak menutup kemungkinan dana stimulan itu nantinya kami alihkan ke wilayah lain bila wilayah sebelumnya tidak menjalankan program secara maksimal. Jadi motivator akan terus memantau pelaksanaannya dan kami melakukan evaluasi,” kata Saharuddin Ridwan
Sepuluh fasilitator Kampung Pintar yang hadir berjanji akan menjalankan program Kampung Pintar dengan baik. Mereka menerima materi dengan cermat. Antusiasme mereka nampak saat melontarkan sejumlah pertanyaan terkait program yang baru pertama kali diadakan di Kota Makassar ini.
Selain penguatan bank sampah, pelaksanaan program Kampung Pintar di Kota Makassar, pada awal pelaksanaannya, juga difokuskan pada penghijauan. Dengan adanya program ini, diharapkan lahir kampung mandiri yang berkarakter dan memiliki potensi kearifan lokal yang bisa dikembangkan untuk meningkatkan produktifitas melalui pemberdayaan masyarakat yang berkelanjutan.
Sepuluh wilayah Kampung Pintar Makassar masing-masing, Kelurahan Karang Anyer, La’latang, lakkang, Ujung Pandang Baru, kalukuang, Cambaya, Ballaparang, Tamamaung, Bangkala, dan Kelurahan Pa’Baeng-baeng. Dalam waktu dekat ini, mereka akan menerima dana stimulan awal sebesar Rp. 3.000.000,- setiap kelurahan. Dana tersebut akan digunakan untuk menjalankan program sesuai mekanisme yang ditetapkan Yayasan Unilever Indonesia (YUI) dan Yayasan Peduli Negeri (YPN). (habibi/KP)
Sepuluh Wilayah Kampung Pintar Makassar
2. Kelurahan La’latang
3. Kelurahan Lakkang
4. Kelurahan Ujungpandang Baru
5. Kelurahan Kalukuang
6. Kelurahan Cambaya
7. Kelurahan Ballaparang
8. Kelurahan Tamamaung
9. Kelurahan Bangkala
10. Kelurahan Pa’Baeng-baeng
Makassar Percontohan Kampung Pintar
Kampung Pintar - Kota Makassar terpilih sebagai kota percontohan untuk Program Kampung Pintar yang dicetuskan oleh Yayasan Unilever Indonesia (YUI) bekerjasama dengan Yayasan Peduli Negeri (YPN). Program ini akan memilih sepuluh wilayah RW yang ada di kota Makassar untuk masuk dalam binaan Kampung Pintar. Sejumlah aspek yang akan dikembangkan dalam program ini diantaranya, masalah lingkungan, kesehatan, pendidikan, ekonomi dan teknologi informasi. Beberapa stakeholder yang dilibatkan dalam proses pemilihan ini yaitu Dinas Kesehatan Makassar, Dinas Pendidikan, Dinas Koperasi dan UKM Kota Makassar, Balai Lingkungan Hidup Kota Makassar serta Dinas Kominfo Kota Makassar.
Asisten II Kota Makassar, Burhanuddin mengaku sangat merespon kegiatan ini. “ Tentunya ini sangat relevan dengan tekad Pemkot Makassar yang tengah berjuang melakukan perubahan karakter di tengah masyarakat tentang pentingnya kebersihan,” ujar Burhanuddin.
Menurut Nurul Ekawati dari Yayasan Unilever Indonesia, tahap awal pelaksanaan ini akan difokuskan pada pengelolaan bank sampah di sepuluh wilayah binaan Kampung Pintar. “Kita akan bekerja sama dengan para pengepul barang-barang bekas, agar sampah yang telah dikumpulkan pada bank sampah dapat disalurkan kepada pengepul,” ujarnya saat berkunjung ke wilayah-wilayah 20 kandidat kampung pintar. (Firman/KP)
Langganan:
Postingan (Atom)